Proses Pendampingan PKH


PKH merupakan salah satu program prioritas nasional yang di jadikan centre of exellence oleh Kementerian Sosial dalam menanggulangi kemiskinan secara kontinu. Kita perlu mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Sosial dalam menurunkan angka kemiskinan secara terpadu dan terintegrasi melalui adanya Program Keluarga Harapan (PKH).

Proses Pendampingan yang dilakukan merupakan suatu proses pembelajaran terus-menerus bagi peserta PKH dengan tujuan kemandirian keluarga dalam upaya-upaya peningkatan taraf hidupnya. Artinya bahwa inisiatif pendamping akan pelan-pelan dikurangi dan akhirnya akan berhenti. Peran pendamping akan dipenuhi oleh pengurus kelompok atau pihak lain yang dianggap mampu oleh masyarakat.

Pendamping Sosial PKH merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang direkrut oleh Kementerian Sosial sebagai pasukan garis terdepan dalam memberantas kemiskinan. Sebagai sosok pekerja sosial, peran Pendamping Sosial PKH sangat bermanfaat dalam membantu pemerintah dalam menanggulangi permasalahan kemiskinan. Pendamping Sosial PKH bekerja secara purna waktu, dimana kita dituntut sewaktu-waktu harus siap mental dan fisik dalam menjalankan tugas dengan sepenuh hati dan tanggung jawab.

Kegiatan pengembangan kepesertaan PKH di lapangan, seperti sosialisasi PKH, validasi,
verifikasi, Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau Family Development Session (FDS), pemutakhiran, hingga proses penyaluran bantuan kepada KPM membutuhkan peran serta secara langsung oleh Pendamping Sosial PKH untuk memperlancar kegiatan
adaministrasi dan teknis dari Daerah ke Pusat.

Peran dominan Pendamping Sosial PKH inilah yang menjadi tolak ukur keberhasilan PKH dilapangan, sehingga Pendamping Sosial PKH dituntut harus bekerja secara efektif, efisien, dan produktif sebagai pekerja sosial yang profesional.
Secara umum, Pendamping Sosial PKH harus mampu turut serta dalam melakukan intervensi perubahan terhadap permasalahan sosial KPM, baik secara individu ataupun keluarga, sehingga permasalahan yang timbul akan dapat terselesaikan dengan maksimal.
Sebagai pekerja sosial, Pendamping Sosial PKH dituntut memiliki suatu pemahaman mengenai penanganan masalah yang di hadapi oleh KPM, baik permasalahan pendidikan, kesehatan, serta
kesejahteraan sosial.

Pendamping Sosial PKH juga harus mampu menerapakan strategi atau metode keilmuan yang di peroleh ketika pelatihan ataupun pendidikan sebagai bahan dasar dalam menganalisis dan menyelesaikan permsalahan sosial KPM, sehingga nantinya KPM akan
mengalami perubahan sosial secara berkelanjutan.

Pemberian bantuan sosial yang di berikan kepada KPM PKH tidak akan selalu menjamin akan terjadinya perubahan sosialbterhadap kehidupan sosial KPM, untuk itu perlu pendekatan
Pendamping sosial PKH secara langsung dalam membimbing KPM PKH, agar mampu melakukan transformasi dari KPM dari yang kurang sejahtera menuju KPM yang sejahtera.

Secara teknis di lapangan, Pendamping Sosial PKH mengetahui secara langsung kondisi KPM yang ada dimasyarakat, sehingga Pendamping Sosial PKH tahu apa permasalahan dan solusi yang perlu diberikan kepada KPM dampingannya agar secara kontinu mengalami perubahan
sosial.

Jika melihat dari aspek kinerjanya, Pendamping Sosial PKH seolah-olah merupakan pekerja yang dipersiapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Sosial sebagai agen khusus yang diterjunkan langsung ke lapangan untuk membantu masyarakat miskin, khususnya keluarga miskin sebagai penerima bantuan sosial secara berkelanjutan.
Pendamping Sosial PKH sebagai perwujutan dari pekerja sosial harus mempunyai jiwa pengabdian sosial, kemauan, serta memiliki kemampuan dalam proses penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Pendamping Sosial PKH merupakan aktor utama dalam mempromosikan perubahan sosial bagi KPM. Secara garis besar ada 3 (tiga) hal cara yang sudah menjadi komitmen dan pedoman bersama bagi seluruh Pendamping Sosial PKH dalam mendukung perubahan sosial. Pertama mengenai pemenuhan kondisionalitas KPM PKH dalam mengakses fasilitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial dengan tujuan agar terbentuknya kemandirian KPM dalam mengakses pelayanan tersebut. Kedua, nelakukan pertemuan kelompok dalam format Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau Family Development Session (FDS), dimana kegiatan ini merupakan proses pembelajaran secara terstruktur untuk menciptakan perubahan perilaku KPM PKH. Ketiga, selain itu kegiatan P2K2 ini memiliki tujuan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai pentingnnya pendidikan, kesehatan, pengelolaan keuangan bagi keluarga, serta pentingnya kesejahteraan bagi lansia dan penyandang disabilitas berat.

Kemudian, membantu untuk memperoleh fasilitas layanan kesehatan bagi lansia dan
penyandang disabilitas berat.

Selain 3 kegiatan diatas, ada beberapa kegiatan tambahan yang tidak kalah penting untukdilaksanakan oleh Pendamping Sosial PKH, yaitu seperti memastikan bantuan tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu dan melayani fasilitas penangan Sistem Pengaduan Masyarakat (SPM).










EmoticonEmoticon