Mengatasi Anak yang Tidak Ingin Bersekolah

Mengatasi Anak yang Tidak Ingin Bersekolah




Pendidikan anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari persoalan mencerdaskan bangsa. Melalui pendidikan, anak-anak diasah dengan seperangkat pengetahuan untuk memiliki kesadaran dan kemauan yang positif dalam menemukan dan merumuskan tujuan untuk dirinya di masa-masa mendatang. Pembangunan pendidikan di Indonesia telah menunjukan keberhasilan yang cukup besar. Wajib belajar sembilan tahun yang didukung pembangunan insfratruktur sekolah dan diteruskan dengan wajib belajar sembilan tahun adalah program sektor pendidikan yang diakui cukup sukses. Kasus tinggal kelas, terlambat masuk sekolah dasar, anak putus sekolah dan ketidakmampuan untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi merupakan hal yang cukup banyak menjadi sorotan di dunia pendidikan. (www.cetak.kompas.com, 2009).


Anak tidak sekolah, hal yang perlu dilakukan orangtua diantaranya;
1. Berbicara dengan lemah lembut
2. Menatap anak dengan penuh kasih sayang
3. Bertanya 
4. Amati
5. Berbicara dengan guru di sekolah
6. Diskusi dengan ortu atau kerabat di rumah
7. Melakukan kunjungan rumah atau home visit dengan mengassestment masalah anak
8. Memotivasi anak agar senang sekolah
9. Menghindari anak pada lingkungan teman sebaya yang "mogok sekolah"
10. Menstimulus anak dengan pujian, penghargaan
11. Mengurai, meretas permasalahan anak "mogok sekolah"
12. Menghubungkan sistem sumber pendidikan terdekat
13. Menjauhkan anak dieksploitasi ekonomi dengan cara membiarkan anak bekerja
14. Melakukan advokasi pada orang tua anak
15. Kemauan anak untuk berubah lebih baik dengan cara senantiasa tetap sekolah, inilah yang paling        berhasil merubah kemauan anak senantiasa tetap sekolah

Sekolah merupakan kehidupan sehari‐hari yang harus mereka lalui sebagaimana orang dewasa melewatkan kehidupannya dengan bekerja dan berkeluarga. Namun demikian ada anak‐anak yang merasa terganggu, tidak nyaman dan tak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan bersekolah.

Istilah “mogok sekolah” dalam penelitian ini diambil dari istilah yang biasa digunakan orangtua untuk mengutarakan permasalahan anaknya. Dalam literatur, ada berbagai istilah yang berhubungan di antaranya school refusal, school phobia, school avoidance, dan truancy. Keempat istilah itu mengacu pada kecenderungan seseorang untuk menghindari sekolah. Pengertian school refusal, school avoidance dan school phobia seringkali dipertukarkan karena mengandung unsur‐unsur yang saling tumpang tindih, sedangkan pengertian truancy sama sekali berbeda. Truancy mengacu pada penghindaran sekolah yang berasosiasi dengan kenakalan anak dan ketidaktertarikan terhadap kegiatan sekolah. Anak yang disebut truant tidak mengikuti sekolah lebih karena alasan‐ alasan seperti malas, tidak mau mengikuti aturan‐aturan di sekolah, atau lebih menyukai aktivitas lain seperti main games.



Menurut Kearney (2006), anak usia sekolah dapat disebut mengalami school refusal jika: (1) ia sama sekali mening‐ galkan sekolah (absen terus‐menerus), atau (2) ia masuk sekolah tetapi kemu‐ dian meninggalkan sekolah sebelum jam sekolah usai, atau (3) ia mengalami perilaku bermasalah yang berat setiap pagi saat menjelang pergi ke sekolah, misalnya mengamuk (tantrum), atau (4) ia pergi ke sekolah dengan kecemasan yang luar biasa dan di sekolah berulang kali mengalami masalah (misalnya pusing, ke toilet, berkeringat dingin).  

Gelfand & Drew (2003) membagi school refusal menjadi dua subtipe: (1) Tipe I (tipe akut), tipe ini puncaknya terjadi pada anak sekitar umur 5‐8 tahun. School refusal akut terjadi dalam kurun waktu antara 2 minggu sampai satu tahun. Tipe ini memiliki prognosis yang lebih bagus; (2) Tipe II (kronis), yang terjadi selama 2 tahun ajaran atau lebih. Tipe ini puncaknya terjadi pada anak tingkat SLTP atau SLTA dan memperlihatkan kesulitan yang lebih serius. Tipe ini memiliki prognosis yang kurang bagus. 

Onset school refusal biasanya mengikuti suatu pola yang cukup universal. Gangguan biasanya mulai timbul saat bangun pagi. Saat harus bersiap‐siap untuk berangkat ke sekolah, anak akan mengalami berbagai simtom seperti mual, muntah, sakit perut, diare, pusing, dan sebagainya. Hal‐hal kecil membuatnya marah. Orangtua biasanya ikut terpancing emosinya dan meng‐ anggap anak hanya berpura‐pura sakit. Konflik pun terjadi. Anak marah, menangis, mengamuk. Namun ketika saatnya berangkat telah lewat dan orangtua mengijinkan anak untuk tidak berangkat ke sekolah, anak akan menjadi ceria dan sehat kembali seperti tak terjadi apa‐apa (Wenar, 1994; Gelfand & Drew, 2003). 

Kearney (2006) mencatat adanya simtom‐simtom ketakutan, panik, episode menangis, mengamuk (temper tantrums), mengancam akan melukai diri sendiri, serta simtom‐simtom somatik. Durlak (1992) menyatakan adanya emosional distress yang dialami anak‐ anak dengan school refusal ini, yang ditandai dengan rasa takut yang kurang beralasan jika harus pergi ke sekolah. Mereka bisa sangat merasa ketakutan dan mereka tidak mau meninggalkan rumah. Anak‐anak yang mengalami school refusal, ketika hari itu dia harus sekolah biasanya akan mengeluh sakit kepala, sakit perut, sakit tenggorokan maupun yang lain ketika bangun tidur. Namun ketika mereka sudah kembali berada di rumah tiba‐tiba sakit itu menghilang dan akan timbul lagi keesokan harinya ketika dia harus berangkat sekolah lagi.  


Daftar Pustaka :

Durlak, J.A. 1992. School Problems of Children. Dalam Walker, C.E. & Roberts, M.C. (editors). Handbook of Clinical Child Psychology (2nd edition). New York: John Wiley & Sons.

Fremont, W. P. 2003. School Refusal in Children and Adolescents. Diambil dari www. Aafp.org/afp pada 20 Maret 2006.

Gelfand, D. M. & Drew, C, J, 2003. Understanding Child Behavior Disorders. 4th edition

Kearney, C.A. 2001. School Refusal Behaviour in Youth. A functional approach to assessment and treatment. Washington DC: American Psychological Association. 

Kearney, C.A. 2006. Casebook in Child Behavior Disorders. 3rd editio


EmoticonEmoticon