Mengasah Profesi Pekerjaan Sosial Melalui Organisasi


Mengasah Profesi Pekerjaan Sosial Melalui Organisasi*

Dewan pengurus daerah provinsi sejak pertama kali dibentuk musda 1 tinggal 4 Desember 2014 di UMM Dome, berupaya merumuskan beberapa kerja organisasi yang disusun melalui program kerja bidang. Setahun kepengurusan DPD Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) telah menyusun dan melaksanakan beberapa kegiatan strategis yang diharapkan mampu menjawab makna dan eksistensi organisasi profesi ini di provinsi Jawa Timur.
Saat ini keanggotaan IPSPI Jatim tersebar di beberapa daerah di Jatim dan dilihat dari latar belakang pendidikannya adalahsemua mengenyam pendidikan tinggi. Seseorang yang mempunyai pendidikan atau pengetahuan memadai dapat dikatakan sebagai intelektual. Seorang intelektual mengambil peranan dalam kehidupan manusia untuk membangun peradaban.
Dalam perkembangan keilmuan dan keprofesian, saat ini profesi pekerja sosial maupun Ilmu pekerjaan sosial atau kesejahteraan sosial mengalami perkembangan yang dinamis dan cukup berarti baik di level Indonesia maupun tataran global. Pada tahun ini ada beberapa isu penting yang telah direspon IPSPI Jatim. Salah satunya adalah berkaitan dengan bagaimana meletakkan posisi profesi pekerja sosial sebagai bagian dari penjaga hak asasi (defender human right). Dalam konteks ini IPSPI Jatim kepada public menyampaikan bahwa pekerja sosial adalah pekerja ham yang sekligus penjaga ham. Demikian juga dalam kongres IPSPI tahun 2016 di Yogyakarta, IPSPI Jatim menyampaikan gagasan tentang perlu nya perubahan posisi Organisasi IPSPI sebagai Organisasi yang benar benar organisasi profesi termasuk dalam waktu memperibgati hari pekerja sosial social work day tahun 2016, dimana IPSPI Jatim menyelenggarakan kepada public di beberapa tempat di Jatim yang mana hal INI  menjadi satu-satunya di Indonesia dan baru pertama Kali nya Organisasi IPSPI menyelenggarakan kampanye kepada public dengan model dan cara yang berbeda dengan tahun tahun sebelumnya.
Program selama ini, semenjak berdiri IPSPI dibagi menjadi dua bagian yaitu, pertama berkaitan dengan pengembangan profesi, pelayanan anggota dan perlindungan anggota. Misal nya mengadakan bimtek, fasilitasi uji kompetensi sertifikasi profesi, penerbitan kartu anggota, workshop keprofesian, advokasi, mendelegasikan anggota/pengurus mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh lembaga lain baik sebagai narsum, Fasilitator maupun peserta. Kedua, membangun jaringan kerja dan merespon masalah sebagai contoh mengikuti kongres IPSPI di Yogyakarta, memperingati hari pekerja sosial, merespon kasus dan pendampingan kasus, mendorong pendirian Indonesia Safe House (Insafh).
Capaian keanggotaan, terwujudnya pekerja sosial Jatim yang professional hal tersebut didasari atas berbagai permintaan anggota di Jawa Timur untuk menyegerakan adanya kualifikasi profesi pekerja soaia khususnya di Jatim yang kompetwn professional dalam pelaksanaan praktik pekerjaan sosial. Kedua, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pekerja sosial professional di Jatim, memberikan perlindungan kepada pekerja sosial professional dan penerima layanan praktik pekerjaan sosial seauai dengan kode etik profesi, menetapkan standard pelayanan dan praktik pekerjaan soaial .
Seorang intelektual adalah pejuang krbenaran dan keadilan, tekun dan menikmati bidang yang digelutinya, tidak ditunggangi ambisius Materi dan kepentingan sesaat, berani keluar dari sarangnya untuk memprotes ketidakadilan dan menyuarakan kebenaran, walau mahal resikonya dan oleh itu ia tidak takut penjara atau hidup susah. Julian Benda (1867-1956).
Peran dan fungsi anggota IPSPI yang memperjuangkan keadilan dengan resiko tinggi adalah merupakan bagian dari pengejawantahan atas sikap-sikap intelektual yang dimilikinya. Pada musda yang berlangsung di Kalimetro Malang, 6-7 Mei 2018 juga telah terjadi estafet kepemimpinan dari Lutfi J Kurniawan ke Juli Abidin.





IPSPI Jatim, Pekerja Sosial Supervisor PKH Kota Batu
Moch. Ferry Dwi Cahyono, S. Sos.



EmoticonEmoticon