Pendistribusian Kartu Keluarga Sejahtera

www.pkhkotabatu.com. 23 sampai 24 Januari 2020 bertempat di outlet BNI Balai kota Among Tani kebanggaan masyarakat Batu telah dilaksanakan pendistribusian kks (kartu keluarga sejahtera) Program Keluarga Harapan.




Dua hari penjadwalan untuk memudahkan pendistribusian dan memastikan terlaksana dengan baik.




Setidaknya ada 226 kartu keluarga sejahtera keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan baru.


Seluruh sumber daya manusia Program Keluarga Harapan kota Batu mulai pendamping sosial, administrasi pangkalan data, koordinator kota dan peksos supervisor terlibat di kegiatan tersebut.

Salam SIP PKH

Tiga Graduasi Mampu, Mandiri

Tiga Graduasi Mampu, Mandiri 

www.pkhkotabatu.com

Pertama, Simpen Bawon, alamat dusun pagergunung desa gunungsari. Punya usaha jual bakso ayam dan aneka minuman. Modal usaha dari uang Program Keluarga Harapan dikumpulkan untuk modal dan sekarang mengundurkan diri karena jualan semakin maju.

Kedua, bu Lina widiastutik alamat dusun kandangan desa gunungsari, ekonomi cukup.

Ketiga, bu sri kustini alamat dusun pagergunung desa Gunungsari. Mengundurkan diri karena mampu dan mandiri dari uang Program Keluarga Harapan dikumpulkan untuk tambahan modal suaminya yg membuka bengkel sepeda motor dan bengkel bodi sepeda motor trail dirasa ekonomi cukup bu sri mengundurkan diri.

Graduasi Mandiri

Graduasi Mampu

Graduasi Mandiri



Manajemen Kasus dalam Pekerjaan Sosial







MANAJEMEN KASUS DALAM PEKERJAAN SOSIAL

(A. Zein Arifin/ Widyaiswara Pusdiklat Kesos)


Abstrak

Permasalahan sosial yang terjadi sekarang ini dirasakan semakin kompleks. Individu, kelompok ataupun masyarakat terkadang tidak memiliki pemahaman bagaimana  cara  menghadapi  permasalahan  tersebut  dan  membutuhkan orang lain untuk dapat keluar dari segala permasalahan yang ada. Pekerja sosial   sebagai   salah   satu   profesi   yang   memiliki   tugas   dan   fungsi meningkatkan atau memperbaiki kemampuan klien untuk dapat melakukan fungsi sosialnya, diharapkan dapat berperan dalam membantu setiap individu keluar dari masalah yang ada dan juga mendekatkan klien pada pelayanan yang dibutuhkan.   Sebagai implementasi tugas tersebut, dibutuhkan satu metode  yang  mendekatkan  individu  agar  mendapatkan  pelayanan  yang sesuai dan tepat sasaran. Manajemen kasus merupakan suatu pendekatan dalam pemberian pelayanan yang ditujukan untuk menjamin agar klien yang mempunyai masalah ganda dan kompleks dapat memperoleh semua pelayanan yang dibutuhkannya secara tepat. Makalah ini mengupas tuntas tentang manajemen kasus sebagai upaya peningkatan pelayanan sesuai kebutuhan klien.


KATA KUNCI : Pekerja Sosial, klien, manajemen kasus, metode.


I.  Konsepsi Manajemen kasus

Seringkali seseorang mengalami suatu permasalahan   yang sesungguhnya membahayakan jiwa maupun raga.   Namun mereka tidak tahu cara keluar dari masalahnya tersebut atau tidak berani melakukakannya,   sehingga kondisi demikian membutuhkan pertolongan orang lain untuk membantu mengatasi permasalahannya.

Keterampilan manajemen kasus (case management) merupakan suatu metoda pendekatan pekerjaan sosial yang bertujuan  memberikan pelayanan  terhadap


orang dalam situasi dan kondisi meminta atau mencari pertolongan.  Pelayanan yang diberikan diharapkan dapat menjamin orang yang mempunyai masalah akan memperoleh semua pelayanan yang dibutuhkannya secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, seorang manajer kasus harus mempelajari dan    mampu mempertimbangkan masalah dan kebutuhan klien berdasarkan hasil asesmen yang dibuat oleh assesor.

Dengan beragamnya jenis masalah yang dihadapi klien, maka seorang manajer kasus dituntut melaksanakan fungsi-fungsinya guna memaksimalkan pertolongan yang akan diberikan. Salah satu fungsi manajemen kasus yang tidak dapat dilaksanakan sendirian adalah fungsi koordinasi, karena dalam pelaksanaannya akan selalu berhubungan dengan orang lain untuk mengakses   sumber-sumber yang tersedia di masyarakat guna memaksimalkan pertolongan yang akan diberikan. Rose,1992 dalam Compton, 1999, bahwa: untuk beberapa hal, manajemen kasus berarti membantu klien untuk mengakses sumber-sumber yaitu dengan mengatur sumber-sumber dari masyarakat”

Lauber: 1992 dan More:1990 dalam Comton :1999 bahwa: “salah satu fungsi dari pekerjaan sosial adalah koordinasi dukungan sosial formal. Begitu juga Robert L. Balker (1982: 20)  bahwa: Case management is a procedure to coordinate all the helping activities on be help of client or group of clients” (kegiatan dalam manajemen kasus merupakan kegiatan yang memiliki prosedur untuk mengkoordinasi seluruh aktivitas pertolongan yang diberikan kepada klien secara perorangan maupun kelompok).

Koordinasi seyogyanya dilakukan secara professional oleh teamwork yaitu antara pekerja sosial satu dengan pekerja sosial dan atau dengan profesi lain sehingga upaya pelayannya dapat ditingkatan sesuai kebutuhan klien. Selaku teamwork, maka ada beberapa kaidah yang harus dilaksanakan oleh pekerja sosial, antara lain:
1) Tumbuhkan rasa perhatian terhadap klien.

2)  Ciptakan  kepecayaan  antar  team.

3) Tanggung jawab terhadap persoalan yang dihadapi klien.

4) Terbuka.

5) Fokus pada tujuan pemecahan masalah.



II.  Tujuan Manajemen kasus

1.  Menjamin kontinyuitas pelayanan lintas bidang pada waktu atau kurun waktu tertentu
2.  Menjamin   responsivitas   pelayanan   terhadap   berbagai   kebutuhan   klien termasuk perubahan pelayanan, jika perlu seumur hidup klien.
3.  Membantu klien memperoleh akses terhadap pelayanan yang dibutuhkan, memecahkan hambatan aksesibilitas yang disebabkan oleh kriteria keterjangkauan, peraturan, kewajiban.
4.  Menjamin bahwa pelayanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan klien, diberikan dengan cara tepat dan tidak duplikatif.


III.  Dasar-dasar pekerjaan sosial

1.   Fungsi managemen kasus.

a.   Identifikasi klien dan orientasi (Client Identification and Orientation).

Manajer kasus harus terlibat langsung dalam melakukan identifikasi dan orientasi sekaligus melakukan seleksi terhadap permasalahan yang dialami oleh klien, serta mempengaruhi secara positif kepada orang / lembaga yang dapat menerima rujukan terkait dengan kebutuhan klien.

b.    Asesmen klien (Client Assessment). Asesmen berfungsi menggali dan mengumpulkan informasi terkait dengan kebutuhan-kebutuhan biopsikososial  dan  spiritual    klien,  serta  sumber-sumber  serta  potensi klien baik kekuatan dan kelemahannya. Melalui asesmen tersebut maka akan diperoleh data yang lebih mendalam, jelas dan akurat karena diperoleh secara menyeluruh dan integral, sehingga dapat dijadikan langkah  menyusun  rencana  intervesi  yang  tepat  guna  pemecahan masalah yang dihadapi klien. Lambert  Maguire (2008:46) dalam bukunya mengatakan  bahwa:  “..ada  penyebab-penyebab  biologis, sosial psikhologis lingkungan dan penyebab-penyebab yang dipelajari dari perilaku  dan/atau  masalah-masalah.  Oleh  karena  itu,  manajer  kasus harus mempelajari dengan cermat hasil asesmen dilakukan oleh pekerja


sosial selaku asesor, guna menentukan rencana intervensi yang akan disusunnya.

c.    Rencana   Intervensi,   setelah   manajer   kasus       mempelajari   dan memahami hasil asesmen, dilanjutkan membuat telaahan dan merencanakan pelayanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan klien, dengan mempertimbangkan hak azasi manusia, artinya bahwa layanan tersebut mempertimbangkan hak-hak dasar yang dibutuhkan oleh korban tindak kekerasan terhadap perempuan.Selanjutnya manajer kasus bersama klien menyusun rencana intervensi yang sebelumnya manajer kasus  memberikan  informasi  tentang  lembaga  layanan  yang  dapat diakses oleh klien. Yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa korban tindak kekerasan biasanya memiliki ketakutan yang luar biasa, ataupun rasa malu jika masalahnya diketahui oleh orang lain, sehingga rencana intervensi yang akan diberikan benar-benar memberikan rasa aman, nyaman.Selanjutnya manajer kasus juga   menginterpretasikan tujuan dan fungsi rencana kasus kepada pemberi pelayanan, agar terdapat sinkronisasi dalam memberikan pelayanan.

d.    Koordinasi,   manajer   kasus   melakukan   koordinasi   dalam   rangka menghubungkan klien dengan sumber-sumber bantuan yang sesuai dengan kebutuhan klien. Koordinasi yang efektif dilakukan   tidak hanya pada saat akan melakukan rujukan, namun sebaiknya dilaksanakan sebelum dan sesudah melakukan rujukan, artinya bahwa berkoordinasi sama dengan berjejaring artinya sebaiknya selalu dijaga. Oleh karena itu, penting bagi seorang manajer kasus mengenal lebih dekat lembaga- lembaga tersebut, dan memiliki daftar alamat lengkap dan kontak person yang bisa dihubungi.

e.    Tindak lanjut, monitoring dan evaluasi Seorang manajer kasus harus selalu melakukan kontak  secara kontinyu terhadap klien paska rujukan, untuk memastikan bahwa layanan yang diberikan benar-benar tepat, sehingga klien berada di lingkungan yang nyaman dan aman. Selanjutnya monitoring dilakukan untuk mengetahui tingkat perkembangan klien selama  berada  di  lembaga  tersebut,  apakah  mengalami  perubahan


signifikan dengan pelayanan yang diberikan. Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan terhadap lembaga terkait (rujukan), guna mengetahui Alayanan yang sedang / sudah diberikan kepada kliennya.

f.     Dukungan, Manajer kasus harus selalu memberikan dukungan selama masa pelayanan melalui: informasi-informasi yang dibutuhkan, memberikan konseling pada saat klien mengalami permasalahan, serta melakukan  pembelaan   terhadap   klien   jika   hak-hak   dasarnya   tidak dipenuhi di lembaga rujukan tersebut.

g.    Pencatatan, pencatatan selama proses pelayanan penting bagi manager kasus, guna mengetahui perkembangan / kemajuan yang dicapai klien, pelaksanaan  pelayanan  serta  kesesuaiannya  terhadap  rencana  yang telah diusun sebelumnya. Manajer kasus wajib menjaga kerahasiaan file ini karena menyangkut kehidupan klien selanjutnya.


2.   Prinsip-prinsip Manajemen Kasus(Gerhart, 1990).

a.   Individualisasi pelayanan (Individualization of services)

Dalam memberikan pelayanan kepada klien, walaupun memiliki persamaan masalah, ataupun persamaan karakter yang dimiliki klien, maka seorang manajer kasus harus dapat memberikan pelayanan yang spesifik, karena bahwa manusia memiliki kebutuhan yang berbeda bagi setiap indvidu.
b.    Pelayanan yang komprehensif (comprehensiveness of services) Pelayanan diberikan tidak hanya terfokus pada klien, tetapi juga sistem klien  (lingkungan)  yang  mempengaruhi  keberadaan  klien,  agar  tercita suasana yang kondusip bagi kehidupan klien.
c.   Pelayanan yang teratur (parsimonious services)

d.   Kemandirian (fostering autonomy)

Pelayanan yang diberikan bertujuan agar klien mampu hidup normal dan kedepan mampu mengatasi masalahnya sendiri.
e.   Keberlanjutan pelayanan (continuity of care)


Pelayanan dilakukansesuai dengan tahapan pelayanan yang dimulai dari pendekatan awal sampai dengan terminasi yang berakhir dengan kemandirian klien.


3.     Peranan dan tugas Pekerjaan Sosial a.    Pembela, tugasnyanya:
1) Mengidentifikasi hak dan kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi baik yang disengaja maupun terabaikan.
2) Mempertemukan kelayan  dengan  sumber-sumber untuk pemenuhan hak-hak dasarnya.
3) Mempengaruhi sistem sumber agar dapat diakses oleh klien. b.   Pendidik, dengan tugas;
1)  Meningkatan kesadaran dalam menghadapi masalah.

2)  Memberikan  informasi  baru  untuk  meningkatkan  wawasan  berfikir dalam menghadapi masalah yang dihadapi.
3)  Mempengaruhi   klien   agar   meningkatkan   kapasitas   dirinya   untuk mengatasi permasalahannya.
c.   Fasilitator, dengan tugas:

1) Membantu klien dalam memanfaatkan sistem sumber tersebut,

2) Membantu sistem sumber sehingga dapat menjangkau klien.





d.   Mediator, dengan tugas:

Menjembatani antara klien dan sistem sumber dalam rangka pemenuhan kebutuhan
e.   Broker, dengan tugas:

Mencari  solusi  dalam  rangka  membantu  memecahkan  masalah  yang dihadapi dalam pemenuhan hak-hak dasar yang terabaikan.
f.    Perencana

1) Megidentifikasi dan menganalisa  masalah dan kebutuhan klien.

2) Memanfaatkan dukungan sosial yang ada di sekitar klien

3) Menyusun rencana program sesuai dengan masalah dan kebutuhan.


4) Merekomendasikan kepada pekerja sosial penanggung jawab kasus

(manajer kasus tersendiri)

g.   Organisator, dengan tugas:

1) Menghimpun  data  dan  informasi  terkait  dengan  rencana  pelayanan terhadap klien
2) Membangun  kerjamama    dengan    tim  sesuai  dengan  tugas  dan fungsinya.
3) Melakukan   koordinasi   dengan   lembaga   terkait   dalam   rangka menyelesaikan masalah klien.
h.   Evaluator,  dengan tugas:

1) Memperhatikan perkembangan situasi dan kondisi klien.

2) Memperhatikan ketepatan pelayanan yang telah diberikan. i.    Konsultan,  dan tugas:
1) Memberikan nasehat-nasehat kepada klien.

2) Memberikan   pertimbangan-pertimbangan   (solusi)   untuk   dijadikan alternatif pilihan dalam memecahkan masalah yang dihadapi klien.


4.   Etika pekerjaan sosial dalam manajemen kasus

1)   Penerimaan (acceptance).

Seorang pekerja sosial harus menerima kondisi klien apa adanya tentang diri klien dengan tidak memandang latar belakang kondisi klien.




2)   Individualisasi (individualization).

Bahwa   setiap   individu   hidup   memiliki   perbedaan,   sehingga   dari perbedaan tersebut, maka seorang pekerja sosial harus memperlakukan berbeda pula antara klien satu dengan yang lainnya.
3)   Ekspresi emosional secara bertujuan.

bahwa emosi egatif maupun positif yang keluar dari perempuan korban kekerasan, sama pentingnya untuk dipahami oleh pekerja sosial sebagai ekspresi untuk mencairkan kondisi emosinya agar dapat kembali stabil.
4)   Keterlibatan emosional secara terkendali (empaty),


bahwa seorang pekerja sosial   mampu menunjukkan pemahaman yang sungguh-sungguh tentang perasaan yang dialami oleh  RTSM, seolah- olah ia berada dalam situasi dan kondisi yang sama dengannya
5)   Sikap tidak menghakimi (non-judmental attitude).

Pekerja sosial dilarang menghakimi orang lain, artinya memberikan pendapat tentang kesalahan atau tak bersalah yang sudah dilakukan oleh perempuan korban tindak kekerasan, karena ia   mempunyai hak untuk mengemukakan situasi yang dihadapinya tanpa memperoleh tanggapan negatif, agar klien dapat mengeluarkan perasaan yang mengganjal pada dirinya.
6)   Menentukan kehidupan dirinya sendiri ( self determination )


Pekerja sosial    dalam memberikan pertolongan terhadap dengan perempuan kornban tindak kekerasan hanya sebatas memotivasi ataupun memberikan solusi saja. Selanjutnya klien   mempunyai hak untuk menerima atau menolak usul pertolongan yang diberikan, dan klien memiliki kebebasan dalam   menentukan pemecahan masalahnya yang paling sesuai dengan yang diinginkannya.
7)   Kerahasiaan (confidentiality).

bahwa  pekerja  sosial  wajib  merahasiakan  masalah  yang  dialami  oleh klien, dan permasalahan dibuka hanya untuk kepentingan pemecahan masalahnya terhadap lembaga lain dalam rangka mencari solusi lain yang lebih baik.


8)   Kesadaran diri (self awareness)

Pekerja sosial dalam memberikan pertolongan  harus mawas diri, artinya ia harus menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan-keterbatasan sehingga   ia berkewajiban bekerja sama dengan pihak lain /profesi lain yang berkompeten dalam rangka pemacahan masalah RTS.
9)   Ketulusan/kesungguhan (genuiness).

Seorang pekerja sosial harus tulus atau sungguh-sungguh dalam membantu memecahkan masalah wanita korban tindak kekerasan, sehingga tidak ada motif-motif tertentu kecuali hanya ingin menolong.


10) Kejujuran (honesty).

Pekerja sosial harus berani mengatakan  apa adanya  tentang sesuatu yang harus diketahui oleh kliennya, selama tidak akan menimbulkan hal- hal yang membahayakan, atau merugikan diri klien.

5.    Langkah-langkah pekerja sosial dalam manajemen kasus a.    Mengakses lembaga layanan

1) Manajer   kasus   menyiapkan   dan   membuat   kerja   sama   dengan lembaga-lembaga layanan yang sesuai dengan kenutuhan klien perempuan korban tindak kekerasan.
2) Manajer kasus menyiapkan surat referal klien dirujuk pada organisasi atau lembaga pelayanan tersebut.
3) Manajer  kasus  menghubungkan  klien  untuk  melakukan  rujukan  ke lembaga-lembaga yang sesuai dengan kebutuhannya.
4) Manajer  kasus  melakukan  penjangkauan  (outreach)  terhadap  klien yang kesulitan menjangkau lembaga pelayanan, dan   mendorong mereka agar bersedia datang ke lembaga layanan untuk dibantu menyelesaikan masalahnya.
b. Tahap awal masuk (intake process).

1) Menghimpun data dan informasi dari pekerja sosial dari hasil asesmen

2) Menganalisa data dan informasi yang telah masuk / diterima.

3) Manajer  kasus  atau  pekerja  sosial    menggali  atau  mengeksplorasi masalah dan kebutuhan klien serta membantu klien memenuhi persyaratan (elijibilitas) untuk mendapatkan pelayanan
4) Manajer   kasus   memberikan   informasi   tentang   pelayanan   yang disediakan oleh organisasi atau lembaga pelayanan serta tata cara mengisi formulir-formulir yang diperlukan
5) Melihat dukungan sosial yang ada disekitar klien (dukungan keluarga, budaya, nilai-nilai yang ada di lingkungan sekitar).
6) Keterampilan     dalam     mengembangkan     rapport     (membangun kepercayaan klien pada pekerja sosial) dan keterampilan dalam mendapatkan informasi.


c.   Menyusun rencana intervensi:

1) Merumuskan    tujuan pelayanan baik jangka pendek maupun jangka panjang dan realistis sesuai dengan kemampuan dan keinginan klien berdasarkan hasil konseling atau terapi awal sebelum mengkaitkan klien dengan sumber-sumber.
2) Menyusun rencana program yang sesuai dengan kebutuhan klien.

3) Merekomendasikan rencana program kepada lembaga rujukan.

d.  Menghubungkan klien (linking clients)

1)   Manajer kasus mengantarkan klien ke lembaga rujukan

2)    Menajer    kasus    meyakinkan    klien    bahwa    lembaga    rujukan merupakan lembaga yang  tepat terhadap pemecahan masalahnya dan keamanan klien.
3)    Manajer kasus memberikan dukungan berupa konseling, motivasi untuk penguatan klien selama dalam lembaga rujukan.
4)   Memberikan inormasi-informasi baru yang dibutuhkan klien. e. Monitor dan reasesmen (monitoring and reassessment)
Secara berkala melakukan monitoring terhadap keberadaan klien untuk melihat tingkat perkembangan keseluruhan diri klien. Jika terdapat ketidak nyamananan klien, maka perlu dilakukan asesmen ulang untuk mengetahui permasalahannya sehingga dapat memberikan layanan yang lebih baik.
\



f. Evaluasi hasil (outcome evaluation)

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui hasil pelayananan yang dilakukan oleh lembaga rujukan tersebut, baik yang menyangkut kondisi klien maupun lembaga layanan itu sendiri.








DAFTAR PUSTAKA

Achlis,  ( 1982 ). Pekerjaan Sosial Sebagai Profesi dan Praktek Pertolongan, Koperasi Mahasiswa STKS Bandung.


Barker, Robert L. , (1999) : The Social Work Dictionary, 4th edition,  Washington, DC, NASW Press

Departemen Sosial RI, (2003) : Pengembangan Profesi Pekerjaan Sosial Di Indonesia, Lampiran Kep.Mensos RI. No. 87/HUK/2003, Jakarta, Balatbangsos.

Roberts, Albert  R dan Greene, Gilbert J. (2008) : Social Workers Desk Reference,

yang diterjemahkan oleh Juda Damanik, Drs. MSW, dan Cynthia Pattiasina, MSW. MPIA

: Buku Pintar Pekerja Sosial; Jakarta, PT BPK Gunung Mulia.


Blume W Thomas,2008, Menjadi Konselor Keluarga, sebagai jembatan untuk terapi keluarga, Pustaka Societa, Jakarta.

Maguire Lambert, 2008, Pekerja Sosial Klinis, Pustaka Societa, Jakarta. http://carapedia.com/pengertian_definisi_konsep_menurut_para_ahli_info402.html


Yusman Iskandar, ( 1988 ), Beberapa Keahlian Penting dalam Pekerjaan Sosial, STKS, Bandung

Kategori

Kategori